SAMPIT, katakata.co.id – Musim kemarau berkepanjangan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai berdampak pada kesehatan masyarakat. Salah satunya terlihat dari meningkatnya kasus diare dalam beberapa bulan terakhir.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim mencatat, sebanyak 3.546 kasus diare telah terjadi di sejumlah wilayah. Kasus terbanyak terjadi pada Juli 2026 dengan 690 kasus, kemudian Agustus sebanyak 536 kasus dan Februari 507 kasus.
Kepala Dinkes Kotim, Umar Kaderi mengatakan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kekeringan turut memengaruhi ketersediaan air bersih, terutama di sejumlah wilayah bagian selatan Kotim.
“Diare itu penyebabnya karena masalah air bersih. Kita kan sedang karhutla dan kekeringan, ini tentunya kesulitan air bersih pada daerah-daerah tertentu,” kata Umar, Rabu (9/9/2026).
Keterbatasan air bersih membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam memilih dan mengolah air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama air untuk minum.
Dinkes melalui puskesmas di berbagai wilayah, terus memberikan edukasi mengenai pentingnya memastikan air yang dikonsumsi dalam kondisi aman. Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan proses pengolahan air sebelum diminum.
Salah satu langkah yang dianjurkan adalah merebus air minum terlebih dahulu, termasuk air yang berasal dari depot atau layanan air isi ulang. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan kontaminasi bakteri E coli yang dapat mengganggu sistem pencernaan.
“Kami, kawan-kawan di puskesmas juga terus memberikan penyuluhan, edukasi kepada masyarakat, agar air minum harus yang direbus. Termasuk kalau menggunakan air isi ulang pun, setidaknya kita rebus,” ujarnya.
Meski jumlah kasus meningkat, Umar menyebut kondisi pasien yang ditangani fasilitas kesehatan masih tergolong ringan. Hingga saat ini belum ditemukan kasus diare yang menyebabkan kematian.
“Namun, diarenya masih diare ringan, sehingga semuanya masih bisa kita tangani di faskes kita. Insyaallah tidak ada kasus diare yang menyebabkan kematian,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan air akibat kemarau, masyarakat juga diminta menggunakan persediaan air secara bijak. Kebutuhan utama seperti minum, mandi dan keperluan rumah tangga perlu menjadi prioritas.
Dinkes Kotim juga telah menginstruksikan fasilitas pelayanan kesehatan di 17 kecamatan, untuk tetap memberikan pelayanan selama 24 jam, terutama selama masa tanggap darurat karhutla dan kekeringan.
“Kita selama karhutla ini sudah instruksikan kepada semua faskes kita buka 24 jam, dengan tenaganya sistem shift, ketersediaan obat-obatan juga sudah mencukupi, kemudian masker juga itu sudah tercukupi,” terang Umar.
Dengan pelayanan kesehatan yang tetap berjalan dan edukasi mengenai keamanan air terus diperkuat, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan selama kondisi kemarau dan kekeringan masih berlangsung di Kotim.
Editor : Juniardi


