SAMPIT, katakata.co.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menguat. Dalam 24 jam terakhir, sebanyak 270 titik panas terdeteksi di 11 kecamatan, seiring meningkatnya potensi kemudahan terjadinya kebakaran di wilayah Kalimantan Tengah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit mencatat, kondisi cuaca pada 9 September 2026 kembali masuk kategori sangat mudah terbakar. Kondisi tersebut diprakirakan masih bertahan hingga 10 September 2026.
Dalam analisis BMKG, hampir seluruh wilayah Kalteng ditandai sebagai wilayah dengan potensi sangat mudah terbakar. Kondisi ini juga terjadi di kawasan yang didominasi lahan gambut, yang menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam situasi kemarau.
“Potensi kemudahan terjadinya kebakaran ditinjau dari analisa parameter cuaca Kalteng, sebagian besar sangat mudah terbakar. Berlaku untuk tanggal 9 dan 10 September 2026,” tulis BMKG dalam rilisnya, Rabu (9/9/2026).
Situasi tersebut mengalami perubahan cukup cepat dibandingkan kondisi pada 8 September 2026. Sehari sebelumnya, hampir seluruh wilayah Kalteng sempat berada dalam kategori aman dari potensi kemudahan terjadinya kebakaran.
Salah satu faktor yang diperkirakan membantu membaiknya kondisi sehari sebelumnya, adalah pertumbuhan awan hujan yang cukup tinggi di Kotim. Sejumlah wilayah bahkan sempat mendapat hujan ringan meski hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menghilangkan risiko karhutla. BMKG kembali memprakirakan potensi pertumbuhan awan hujan rendah untuk periode 9 September pukul 07.00 WIB hingga 10 September pukul 07.00 WIB.
“Pada tanggal 9 September 2026 pukul 07.00 WIB hingga tanggal 10 September 2026 pukul 07.00 WIB, berdasarkan data model prediksi cuaca numerik, potensi pertumbuhan awan hujan rendah,” tambah BMKG.
Meningkatnya potensi kebakaran tersebut juga terlihat dari sebaran titik panas. Dari 270 titik panas yang terdeteksi di Kotim, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 56 titik.
Selanjutnya, Kecamatan Telawang mencatat 52 titik panas dan Kecamatan Teluk Sampit sebanyak 45 titik. Sebaran tersebut menunjukkan ancaman karhutla masih perlu menjadi perhatian, terutama ketika kondisi lahan tetap kering dan peluang hujan kembali rendah.
Editor : Juniardi


