SAMPIT, katakata.co.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, peluang hujan di wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, masih sangat rendah hingga penghujung September 2026.
Informasi tersebut disampaikan BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit melalui laporan cuaca dan titik panas yang diterbitkan Jumat (4/9/1026).
Berdasarkan prakiraan curah hujan probabilistik, peluang terjadinya hujan dengan akumulasi lebih dari 100 milimeter berada di bawah 10 persen. Kondisi ini diprakirakan berlangsung sepanjang tiga dasarian September.
Pada dasarian pertama atau periode 1-10 September, peluang hujan masih berada di bawah 10 persen. Kondisi serupa diperkirakan berlanjut pada dasarian kedua 11-20 September hingga dasarian ketiga 21-30 September 2026.
Minimnya potensi hujan tersebut menjadi perhatian, karena kondisi lahan di sejumlah wilayah Kalteng masih sangat mudah terbakar. BMKG mencatat, hampir seluruh wilayah Kalteng berada pada level sangat mudah terbakar untuk periode 4-5 September, dengan sebagian besar kawasan rawan berada di lahan gambut.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dalam kondisi cuaca seperti sekarang.
“Waspada potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalteng. Masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apapun,” imbau BMKG.
Ancaman tersebut diperkuat dengan masih tingginya jumlah titik panas. Dalam pemantauan selama 24 jam, BMKG mencatat 631 hotspot tersebar di sembilan kecamatan di Kotim. Dari jumlah tersebut, 93 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, yakni di atas 80 persen.
Kecamatan Teluk Sampit menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, mencapai 142 titik. Selanjutnya Pulau Hanaut dengan 94 titik dan Mentaya Hilir Utara sebanyak 71 titik.
Kondisi cuaca yang kering, tingginya tingkat kemudahan terbakar dan banyaknya titik panas membuat potensi karhutla masih perlu diwaspadai dalam beberapa pekan ke depan.
Selain ancaman kebakaran, BMKG juga mengingatkan potensi penurunan kualitas udara akibat asap dan polusi dari karhutla. Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat kualitas udara memburuk.
“Waspada potensi penurunan kualitas udara akibat peningkatan polusi udara yang berasal dari karhutla. Dihimbau kepada masyarakat untuk menggunakan masker ketika berada di luar ruangan,” tutup BMKG.
Editor : Juniardi


