SAMPIT, katakata.co.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Bandara H Asan Sampit. Kawasan tersebut menjadi perhatian karena masuk wilayah objek vital dan berkaitan dengan keselamatan operasional penerbangan.
Untuk mempercepat penanganan, dua unit ekskavator milik Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim mulai dioperasikan di kawasan tersebut, Selasa (1/9/2026).
Bupati Kotim, Halikinnor, bersama Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain dan Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar meninjau langsung pengerahan alat berat tersebut.
Halikinnor mengatakan, ekskavator memiliki beberapa fungsi dalam penanganan karhutla. Selain membuat kanal dan sekat bakar, alat berat digunakan untuk membuka akses agar petugas lebih mudah menjangkau titik api yang berada jauh dari jalan.
“Jadi hari ini kita menurunkan dua alat berat berupa ekskavator. Kegunaannya pertama untuk membuat kanal dan sekat bakar, sekaligus membuat jalan untuk petugas dalam rangka pemadaman,” kata Halikinnor.
Penanganan saat ini dipusatkan pada kawasan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara H Asan Sampit. Kanal dan sekat bakar dibuat sebagai upaya menghambat pergerakan api, sekaligus mencegah kebakaran meluas mendekati kawasan bandara.
Pemkab Kotim juga menyiapkan rencana pembuatan jalur atau blok keliling di kawasan tersebut. Langkah ini diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem pengamanan kawasan bandara dari ancaman kebakaran.
Menurut Halikinnor, pengerahan alat berat tersebut merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama unsur Forkopimda Provinsi Kalteng setelah melihat kondisi karhutla di Kotim.
“Ini juga sesuai dengan instruksi atau perintah dari Forkopimda Provinsi, Pak Gubernur, Pak Danrem, Pak Kapolda, yang kemarin memberikan arahan kepada kita supaya ini betul-betul bisa kita amankan kawasan KKOP ini,” ujarnya.
Ekskavator tidak hanya difungsikan untuk membuat kanal dan akses pemadaman. Apabila ditemukan area dengan kontur lahan yang memungkinkan, alat berat juga akan digunakan untuk membuat embung sebagai tempat penampungan air.
Keberadaan embung diharapkan dapat membantu menyediakan sumber air bagi petugas ketika melakukan pemadaman maupun pembasahan lahan.
“Di samping pemadaman yang masih dilaksanakan, kita juga harus dibantu alat berat ini membuat kanal-kanal. Apabila nanti menemukan kawasannya cukup rendah, kita sekaligus menggali untuk embung-embung penampungan air,” jelas Halikinnor.
Editor : Juniardi


