SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Mengenalkan budaya lokal kepada anak tidak harus menunggu mereka beranjak besar. Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pengenalan budaya Dayak kini mulai didorong sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui sebuah buku khusus.
Buku berjudul “Aku Cinta Budaya Dayak” tersebut ditulis Bunda PAUD Kotim, Khairiyah Halikinnor bersama Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kotim, Ros Ermawati.
Buku itu resmi diluncurkan dalam kegiatan Gebyar PAUD di salah satu pusat perbelanjaan di Sampit, Kamis (20/8/2026), yang digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Buku ini dirancang sebagai bahan pembelajaran yang memperkenalkan budaya Dayak, dengan bahasa dan materi yang lebih mudah dipahami anak usia dini.
Bunda PAUD Kotim, Khairiyah Halikinnor mengatakan, gagasan pembuatan buku berawal dari pengamatannya saat mengunjungi sejumlah sekolah PAUD. Ia menemukan masih ada anak-anak yang belum banyak mengenal budaya lokal.
“Awalnya kami beberapa kali meninjau ke sekolah, khususnya di TK-TK. Mereka belum begitu mengenal budaya Dayak. Jadi kami berinisiatif untuk menciptakan buku ini, ‘Aku Cinta Budaya Dayak’,” ujarnya.
Isi buku tidak hanya mengenalkan pakaian adat. Anak-anak juga diajak mengenal salam, makanan khas, rumah betang, sejarah hingga kearifan lokal masyarakat Dayak.
Materinya dikemas melalui berbagai aktivitas yang diharapkan dapat mendorong kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan berpikir dan kemampuan berbahasa anak.
Penggunaan teknologi juga turut dimasukkan dalam buku tersebut. Terdapat QR Code yang dapat diakses untuk mendukung pembelajaran digital, sehingga materi budaya lokal dapat dikenalkan dengan cara yang lebih menarik bagi anak.
Ketua IGTKI Kotim, Ros Ermawati mengatakan, penyusunan buku tersebut membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan. Tim terlebih dahulu menentukan materi utama yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran anak usia dini.
“Jadi kita bersama Bunda PAUD memikirkan dulu ide-ide pokoknya, lalu mengembangkan sesuai dengan kebutuhan anak usia dini,” jelasnya.
Buku “Aku Cinta Budaya Dayak” selanjutnya direncanakan dibagikan ke sekolah-sekolah TK di Kotim untuk menjadi salah satu referensi dalam pembelajaran budaya lokal.
Bupati Kotim, Halikinnor mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Menurutnya, pengenalan budaya Dayak perlu dilakukan sejak anak masih berada pada usia dini agar mereka tidak kehilangan pemahaman terhadap identitas budaya daerahnya.
“Minimal anak-anak mengenal bagaimana itu baju orang Dayak perempuan atau laki-laki, begitu juga adat istiadatnya. Jadi, dari sejak usia dini ini diperkenalkan,” katanya.
Ia berharap buku tersebut dapat membantu menumbuhkan rasa mengenal dan mencintai budaya Dayak di kalangan anak-anak Kotim, terutama di tengah perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan sosial.
“Terima kasih, apresiasi untuk Bunda PAUD dan Ketua IGTKI Kotim yang menciptakan buku ini. Supaya anak-anak kita minimal mengenal secara dasar, apa itu budaya adat Dayak,” ucap Halikinnor.
Editor : Juniardi


