SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Kondisi kemarau panjang yang diikuti meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), membuat pemerintah daerah menyiapkan langkah ikhtiar bersama melalui salat Istisqo.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim mulai berkoordinasi dengan pengurus masjid dan ulama, untuk mempersiapkan pelaksanaan salat yang ditujukan sebagai permohonan kepada Allah SWT, agar diturunkan hujan tersebut.
Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan, rencana tersebut juga menindaklanjuti imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kotim kepada umat Islam, untuk melaksanakan salat Istisqo di tengah kondisi kemarau yang semakin berat.
“Memang kita juga akan mempersiapkan itu. Saat ini kita koordinasi dengan beberapa pengurus masjid dan ulama untuk melaksanakan itu,” ujar Halikinnor, Kamis (20/8/2026).
Ia menyebut, salat Istisqo menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual, yang dapat dilakukan masyarakat sembari penanganan karhutla terus dilakukan di lapangan.
Namun, Pemkab Kotim belum menentukan waktu maupun lokasi pelaksanaan salat tersebut. Pembahasan lebih lanjut masih akan dilakukan bersama MUI dan pihak terkait.
“Nanti kita koordinasikan dulu dengan para pengurus. Karena itu kan kita harus koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia,” tuturnya.
Di sisi lain, upaya pemadaman karhutla masih terus berlangsung. Halikinnor menyebut Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Karhutla harus bekerja dari pagi hingga malam karena titik kebakaran masih bermunculan di sejumlah wilayah.
“Kita dari pagi, siang, sore, bahkan sampai malam kita memadamkan karena memang api di mana-mana muncul,” ungkapnya.
Kondisi kemarau yang panjang membuat penanganan kebakaran semakin sulit. Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan petugas pemadam, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat untuk mencegah munculnya titik api baru.
Halikinnor kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, baik untuk membuka maupun membersihkan lahan. Menurutnya, api yang awalnya digunakan untuk kepentingan pribadi dapat meluas dan menimbulkan dampak bagi masyarakat.
“Saya minta janganlah, karena dampaknya bersihkan lahan dia, tapi akibatnya melebar ke mana-mana dan dampaknya sangat luas, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan segala macamnya,” tegasnya.
Ia juga meminta aparat meningkatkan pengawasan dan patroli untuk mencegah pembakaran lahan oleh masyarakat.
Menurut Halikinnor, kondisi karhutla yang semakin meluas membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Pemerintah dan petugas tetap melakukan pemadaman, sementara masyarakat diharapkan ikut menjaga lingkungan dan segera mencegah jika menemukan potensi kebakaran.
Editor : Juniardi


