SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Panjangnya waktu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap stamina personel di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sejumlah petugas bahkan harus berada di lapangan hingga 16 sampai 18 jam dalam sehari.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena penanganan karhutla diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
“Endurance petugas memang kalau mereka bekerja sudah overtime sebenarnya, lebih dari 12 jam rata-rata. Ada yang 16, ada yang 18 jam per hari. Bahkan besok mereka harus masuk kembali,” ujarnya, Selasa (11/8/2026).
Menurut Multazam, pengaturan ritme kerja menjadi penting agar personel tidak mengalami kelelahan berlebihan. Petugas tidak harus memaksakan seluruh titik kebakaran langsung selesai dalam waktu bersamaan, tetapi api aktif yang berpotensi meluas harus menjadi prioritas.
Terlebih, sejumlah titik kebakaran kini berada cukup dekat dengan kawasan permukiman. Kondisi tersebut membuat petugas harus bergerak cepat untuk mencegah api menjalar ke area yang lebih luas.
“Rata-rata fire aktif sekarang itu sudah mendekati kompleks-kompleks perumahan. Sekarang seperti di Pandawa itu dekat sekali,” katanya.
Saat ini sekitar 150 personel dilibatkan dalam penanganan karhutla di Kotim. BPBD juga tetap membuka layanan pengaduan selama 24 jam untuk menerima laporan kebakaran dari masyarakat.
Namun, Multazam mengakui kondisi fisik personel yang mulai kelelahan dapat memengaruhi respons di lapangan.
“Kadang-kadang namanya petugas tertidur, terlelap, kelelahan dan segala macam. Kami sebelumnya minta maaf kalau semua tidak bisa kami layani maksimal,” ungkapnya.
Untuk menjaga keberlangsungan penanganan, BPBD mulai mengoptimalkan keterlibatan relawan. Kebutuhan dasar personel seperti makanan dan minuman juga terus diperhatikan, agar mereka tetap memiliki tenaga selama menjalankan tugas.
Multazam menilai, kelelahan fisik berpotensi semakin terasa apabila pola kerja panjang berlangsung terus-menerus. Bahkan, sudah ada sejumlah personel yang meminta izin karena kondisi tubuh mulai kelelahan.
“Secara fisik merasa kuat semua masih, tapi saya yakin dalam hitungan tujuh hari ke depan pasti ada yang tumbang karena sudah banyak yang izin,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan tenaga tersebut, masyarakat diminta ikut membantu dengan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan maupun sampah. Upaya pencegahan dinilai penting agar jumlah titik api baru tidak semakin bertambah dan beban petugas di lapangan dapat dikurangi.
Terlebih dalam kondisi kemarau dan lahan yang kering, api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat dan membutuhkan penanganan lebih besar.
Editor: Juniardi


