Palangka Raya, katakata.co.id – Pernyataan PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan terkait ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) yang disebut aman menuai sorotan tajam. Pasalnya, kondisi di lapangan justru menunjukkan antrean panjang hingga kekosongan BBM di sejumlah SPBU di Kota Palangka Raya.
Pihak Pertamina sebelumnya menyampaikan bahwa stok BBM dalam kondisi aman. Disebutkan, ketersediaan BBM jenis Pertalite dan Pertamax masih terjaga baik di SPBU maupun di supply point Depot Pulang Pisau.
Rata-rata ketahanan stok diklaim mencapai 6,5 hari untuk Pertalite dan 5,5 hari untuk Pertamax. Selain itu, Pertamina menegaskan bahwa stok bersifat dinamis dan berkesinambungan sehingga suplai tidak terputus.
Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan melakukan pembelian BBM sesuai kebutuhan harian guna menghindari panic buying.
Namun, hanya berselang sehari, kondisi di lapangan berbanding terbalik. Pada Jumat (8/5/2026), sejumlah SPBU dilaporkan mengalami kekosongan BBM, sementara antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular hingga berjam-jam.
Kondisi ini memicu kemarahan massa yang mewakili masyarakat. Sejumlah massa bahkan mendatangi kantor Pertamina Kalteng dan melakukan aksi penyegelan sebagai bentuk protes atas distribusi BBM yang dinilai tidak transparan dan tidak konsisten.
Salah satu perwakilan massa, Avan Safrian, menyampaikan bahwa pihaknya menuntut keterbukaan data distribusi BBM dari Pertamina.
“Kami minta transparansi. Berapa kuota per hari di setiap SPBU harus dibuka ke publik, supaya masyarakat bisa mengawasi. Kalau distribusi benar, tidak mungkin terjadi antrean panjang seperti ini,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, antrean BBM telah berlangsung hampir satu bulan dan dalam sepekan terakhir mengalami lonjakan signifikan. Bahkan, masyarakat harus mengantre hingga lebih dari empat jam, yang berdampak langsung pada penurunan pendapatan, khususnya bagi pengemudi ojek dan pekerja harian.
“Ini bukan karena kepanikan masyarakat. Jangan lempar kesalahan ke masyarakat. Kalau memang stok aman, kenapa di lapangan kosong?” tambahnya.
Massa juga mengancam akan terus melakukan aksi hingga ada langkah nyata dari Pertamina. Mereka menolak dialog tertutup dan meminta penjelasan disampaikan secara terbuka di hadapan publik.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi katakata.co.id, Ririn Binti, turut menyampaikan kritik keras terhadap kondisi distribusi BBM di Kalimantan Tengah.
“Ini tidak ada lain, diduga karena Pertamina tidak mampu memasok BBM secara konsisten. Fakta di lapangan menunjukkan hampir semua SPBU mengalami antrean, bahkan sebagian kehabisan stok, khususnya Pertamax,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi di sejumlah SPBU di Palangka Raya, seperti di Jalan G Obos dan kawasan Simpang Galaksi, yang dilaporkan kehabisan Pertamax sejak beberapa hari terakhir.
“Artinya apa? Klaim distribusi lancar itu perlu dipertanyakan. Kalau benar lancar, tidak mungkin terjadi kekosongan seperti ini,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa situasi ini berpotensi menimbulkan dampak sosial yang lebih luas jika tidak segera ditangani.
“Antrean panjang, masyarakat kepanasan, kelelahan, bahkan kesulitan mendapatkan BBM bisa memicu gejolak sosial. Ini berbahaya jika dibiarkan. Pertamina harus segera bertanggung jawab dan menyelesaikan persoalan ini agar kondisi kembali normal,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan lanjutan dari pihak Pertamina terkait perbedaan antara klaim ketersediaan stok dan kondisi riil di lapangan. Situasi ini pun terus menjadi perhatian publik di Kalimantan Tengah.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ardi


