SAMPIT,katakata.co.id- Perubahan iklim yang dipicu fenomena El Nino mulai dirasakan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Berdasarkan informasi BMKG, kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya kualitas dan kuantitas air bersih serta meningkatnya risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) melalui Dinas Kesehatan setempat mengingatkan bahwa air bersih merupakan kebutuhan vital yang sangat mempengaruhi kesehatan. Saat musim kemarau, sumber air cenderung menyusut sehingga konsentrasi bakteri meningkat dan memicu penyakit seperti diare, kolera, dan disentri.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro mengatakan polusi udara akibat debu dan asap yang menyebar saat kemarau turut meningkatkan risiko penyakit saluran pernapasan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini juga berpotensi memperparah penyakit asma bagi penderita.
Tak hanya itu, perubahan cuaca yang tidak menentu seperti hujan ringan di tengah kemarau justru memicu perkembangbiakan nyamuk.
” Di sisi lain, meningkatnya sampah makanan juga menyebabkan populasi lalat bertambah, sehingga memperbesar potensi penyebaran penyakit,” ujarnya belum lama ini.
Kemudian berdasarkan data Dinas Kesehatan tahun 2025 menunjukkan kasus diare paling tinggi terjadi di Kecamatan Parenggean. Meski wilayah perkotaan seperti Baamang dan Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang) juga mencatat angka cukup tinggi, Parenggean tetap menjadi wilayah dengan kasus terbanyak dan masih dalam kajian penyebabnya.
Tren mingguan sepanjang 2025 menunjukkan fluktuasi, dengan puncak kasus terjadi pada Juli. Kondisi ini menjadi peringatan dini mengingat puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus.
Secara umum, tren kasus diare pada 2023 hingga 2025 mengalami penurunan, meski tidak signifikan. Namun pada triwulan I 2026, tercatat terjadi 1.573 kasus.
“Jika tren ini berlanjut dan diperparah musim kemarau, jumlah kasus diperkirakan bisa melampaui tahun-tahun sebelumnya,” ucapnya.
Untuk ISPA, kasus tertinggi tercatat di Kecamatan MB Ketapang, disusul Parenggean. Kondisi ini berkaitan erat dengan meningkatnya polusi udara saat kemarau.
Selain itu meski Kabupaten Kotim telah berhasil mengeliminasi malaria sejak 2018, ancaman penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi perhatian. Pada 2023, kasus DBD sempat melonjak tinggi secara nasional. Sementara hingga Maret 2026, tercatat 37 kasus di Kotim.
“Dua tahun terakhir memang menunjukkan penurunan, namun Dinas Kesehatan menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan agar kasus tidak kembali meningkat hingga ratusan,” terangnya.
Dinas Kesehatan menegaskan bahwa musim kemarau bukan sekadar fenomena alam, tetapi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat. Pencegahan dinilai jauh lebih penting, terutama dengan menjaga kebersihan air, melindungi sistem pernapasan, serta memastikan tubuh tetap terhidrasi.
Partisipasi masyarakat melalui pemantauan lingkungan dan perilaku hidup bersih juga menjadi kunci agar potensi wabah dapat ditekan sejak dini.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ririen Binti


