SAMPIT, katakata.co.id – Warga yang terdampak kabut asap di Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, kini memiliki tempat untuk mendapatkan penanganan awal. Pemerintah kelurahan setempat menyediakan Rumah Bebas Asap di tengah kondisi karhutla yang masih terjadi di Kotawaringin Timur.
Fasilitas tersebut berada di salah satu ruangan Kantor Kelurahan Mentawa Baru Hilir. Rumah Bebas Asap ini disiapkan melalui kerja sama dengan Ranu Welum Foundation, dan diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan tempat dengan udara lebih aman dari paparan asap.
Selain menjadi lokasi untuk beristirahat, warga yang mengalami gangguan pernapasan ringan juga dapat memperoleh bantuan berupa oksigen maupun nebulizer. Fasilitas ini terutama ditujukan sebagai penanganan awal sebelum pasien mendapat layanan medis lebih lanjut.
Ketua TP Posyandu 6 Bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kotim, Khairiyah Halikinnor, mengatakan keberadaan fasilitas tersebut dapat menjadi alternatif bagi warga yang mengalami sesak napas akibat paparan kabut asap.
“Kalau ada yang sesak napas, mau nebulizer atau oksigen, boleh di sini. Asal tidak ada penyakit penyerta. Kalau ada penyakit penyerta, otomatis kita rujuk ke rumah sakit,” kata Khairiyah saat meninjau lokasi, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, konsep Rumah Bebas Asap juga memungkinkan diterapkan di kelurahan lain. Namun, lokasi yang dipilih harus benar-benar mampu memberikan ruang yang aman dan terbebas dari paparan asap.
Sementara itu, Lurah Mentawa Baru Hilir, Putri Noorgeulis Fimaulyahar menjelaskan, fasilitas tersebut sebelumnya direncanakan menggunakan rumah warga. Setelah dilakukan penyesuaian terhadap sejumlah persyaratan, termasuk ukuran dan kondisi ruangan, Kantor Kelurahan Mentawa Baru Hilir dinilai lebih sesuai.
Ranu Welum Foundation menyiagakan dua hingga tiga petugas setiap hari untuk melayani masyarakat. Pelayanan berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga 21.00 WIB. Apabila kondisi warga membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut, pasien akan dirujuk ke RSUD dr Murjani Sampit.
Respons masyarakat terhadap fasilitas tersebut juga cukup tinggi. Putri menyebut dalam sehari Rumah Bebas Asap dapat dikunjungi sekitar 15 hingga 20 orang. Mereka berasal dari masyarakat umum hingga relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla.
“Yang datang ada dari relawan PMI, ada juga dari relawan pemadam kebakaran di kelurahan dan masyarakat umum. Kalau kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien langsung dirujuk ke IGD menggunakan ambulans relawan,” jelasnya.
Keberadaan fasilitas ini dinilai penting karena kabut asap masih cukup pekat di wilayah Mentawa Baru Hilir, terutama pada pagi hari hingga sekitar pukul 08.30 WIB.
Editor : Juniardi


