Penulis/Editor: Ririen Binti
Katakata.co.id – Palangka Raya, Aspal Jalan G. Obos, tepatnya di Simpang Jalan Galaxy Raya, Kota Palangka Raya, bukan lagi sekadar jalur lalu lintas, melainkan “tembok raksasa” kendaraan bermotor yang bisa melumpuhkan ekonomi warga.
Antrean panjang kendaraan yang mengular demi mendapatkan beberapa liter bahan bakar minyak (BBM), tak hanya menyiksa pengendara, tapi secara perlahan mematikan nadi usaha para pedagang di sekitarnya. Mereka tidak sekadar merugi, mereka sedang berjuang bertahan hidup di tengah kepungan antrean kendaraan yang semakin panjang.
Jumat (8/5), suasana muram terpancar dari kedai nasi campur milik Melati. Akses masuk ke tempat usahanya nyaris tertutup rapat oleh barisan mobil dan sepeda motor. Pembeli yang ingin singgah pun terpaksa mengurungkan niatnya, enggan menembus kemacetan yang semrawut.
“Dulu, mencari Rp1 juta sehari itu hal biasa. Sekarang? Mengais Rp500.000 saja sangat sulit. Akses kami tertutup, pembeli pergi ke tempat lain karena tidak mau susah payah masuk ke sini,” ungkap Melati dengan nada getir.
Harapannya hanya satu, menunggu ketegasan pemerintah, untuk membereskan carut-marut distribusi BBM, sebelum dapur para pedagang benar-benar berhenti mengepul.
Kondisi serupa dialami Yusuf, pedagang buah yang lokasi usahanya tak jauh dari SPBU tersebut. Tokonya kini bagaikan terisolasi, akibat panjangnya antrean kendaraan, yang membuat kendaraan para pembeli kesulitan parkir, sehingga mereka batal berbelanja.
“Bagaimana orang mau belanja kalau untuk parkir saja tidak bisa? Pembeli batal masuk, mereka pilih cari aman di toko lain yang tidak macet,” keluh Yusuf.
Bagi Yusuf, ini bukan sekadar penurunan omzet, tapi hantaman telak. Pendapatan yang biasanya mampu menembus angka Rp10 juta lebih, kini merosot tajam.
Para pedagang kini menunggu langkah tegas dan tepat dari pemerintah, sehingga panjangnya antre pembeli BBM bisa terurai, dan pendapatan mereka Kembali normal seperti biasa.


