PALANGKA RAYA, katakata.co.id – Universitas Palangka Raya (UPR) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang dikepalai oleh Dr. Ir. Herry, M.P. pada tahun 2026 ini telah memfasilitasi terselenggaranya kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat bagi dosen di lingkup UPR dengan sumber dana DIPA PNBP TA 2026.
Salah satu tim peneliti dari Fakultas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (FPKP) UPR berhasil menyelesaikan penelitian grup riset yang berjudul “Efektifitas ekstrak belimbing wuluh (averrhoa bilimbi l.) sebagai agen detoksifikasi formalin pada ikan sepat (Trichogaster trichopterus) asin”. Tim ini beranggotakan Dr. Aryani, S.Pi, M.P., Prof. Dr. Ir. Petrus Senas, M.P., Rario, S.Pi, M.S., dan Dr. Ir. Vera Amelia, M.Si.
Ketua tim peneliti Dr. Aryani, S.Pi, M.P. kepada wartawan menjelaskan, “Penelitian ini kami mulai sejak akhir bulan September 2026. Yang melatarbelakangi penelitian ini dilakukan adalah karena masih banyak ditemukan produk olahan ikan sepat asin di pasar-pasar tradisional yang terindikasi mengandung senyawa berbahaya (formalin).
“Sehingga tim peneliti merasa perlu melakukan penelitian secara mendalam yaitu mendeteksi, menguji, mengevaluasi serta melakukan upaya detoksifikasi menggunakan ekstrak belimbing wuluh sebagai agen detoksifikasi formalin yang aman pada ikan sepat asin yang positif mengandung formalin” kata Dr. Aryani, S.Pi, M.P.
Penelitian dilakukan dalam 2 tahap menggunakan sampel ikan sepat asin yang diperoleh dari 5 lapak pedagang berbeda di Pasar Besar Kota Palangka Raya. Pada tahap ke-1, sampel dideteksi secara kualitatif menggunakan tes kit formalin di Laboratorium SKIPM Palangka Raya, dengan hasil 2 sampel positif formalin dan 3 sampel negatif.
Selanjutnya pada tahap ke-2, sampel yang positif diberikan perlakuan perendaman menggunakan ekstrak belimbing wuluh dengan konsentrasi 0%, 25%, 50%, dan 75% selama 60 menit.
“Hasil pengujian kuantitatif menunjukkan bahwa konsentrasi 75% ekstrak belimbing wuluh efektif menurunkan kadar formalin, kadar air, angka lempeng total (ALT), serta aktivitas antibakteri pada ikan sepat asin dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI),” ucapnya.
Adapun yang menjadi bahan utama penelitian ini adalah ikan sepat asin dan belimbing wuluh yang banyak ditemui di Kalimantan Tengah tanpa mengenal musim dan merupakan suatu kearifan lokal. Hasil penelitian tahap ke-2 menunjukkan bahwa pada konsentrasi 75% ekstrak belimbing wuluh mampu menurunkan kadar formalin.
“Kadar air dan angka lempeng total (ALT) serta aktifitas antibakteri pada ikan sepat asin dibandingkan dengan standar nasional Indonesia (SNI), sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak belimbing wuluh efektif digunakan sebagai agen detoksifikasi formalin pada ikan sepat asin,” tambah Dr. Aryani, S.Pi, M.P.
Menutup penjelasannya, Dr. Aryani, S.Pi, M.P. menegaskan, target luaran dari riset kearifan lokal ini adalah publikasi artikel pada jurnal internasional bereputasi scopus Q1 atau Q2, terdaftar paten sederhana HKI, serta luaran tambahan berupa bahan ajar/leaflet dan teknologi tepat guna.
“Kedepannya, LPPM UPR diharapkan semakin banyak memberikan peluang bagi seluruh dosen untuk meningkatkan mutu dan daya saing perguruan tinggi di tingkat nasional dan internasional melalui kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat,” tutupnya.
Penulis: Wiyandri
Editor : Ardi


