SAMPIT, katakata.co.id – Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), turut menjadi perhatian dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Dalam tausiah di Masjid Agung Wahyu Al Hadi, kawasan Islamic Center Sampit, Selasa (8/9/2026), Dr. KH Muhari atau yang akrab disapa Guru Muha mengajak masyarakat menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai dorongan untuk menjaga lingkungan.
Menurutnya, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui peringatan Maulid atau ungkapan lisan. Nilai tersebut harus tercermin melalui akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Bagaimana manifestasi kecintaan kita kepada Nabi, yaitu dengan meneladani dengan cara berakhlak. Berakhlak dalam hal akhlak terhadap sesama dan akhlak terhadap lingkungan,” kata Guru Muha.
Ia menjelaskan, salah satu hikmah Maulid Nabi adalah menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Rasa cinta tersebut kemudian semestinya diwujudkan melalui upaya meneladani ajaran dan perilaku Rasulullah dalam kehidupan.
Dalam konteks Kotim yang tengah menghadapi karhutla dan kabut asap, Guru Muha mengajak masyarakat menerapkan nilai tersebut melalui kepedulian terhadap alam. Menurutnya, menjaga lingkungan merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan Islam.
Ia mengingatkan masyarakat, agar tidak melakukan tindakan yang berpotensi merusak lingkungan, termasuk membakar hutan dan lahan secara sembarangan.
“Akhlak terhadap sesama adalah tidak membakar hutan, akhlak terhadap lingkungan jangan membuat sesuatu yang bisa merusak lingkungan. Itu yang ditanamkan oleh ajaran Islam yang dibawa oleh Baginda Nabi,” ujarnya.
Guru Muha menilai, kondisi karhutla yang terjadi saat ini menjadi ujian yang harus dihadapi bersama. Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Karena itu, momentum Maulid Nabi diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan tahunan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi terhadap perilaku manusia dalam memperlakukan lingkungan.
Ia mendorong masyarakat Kotim, menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai semangat untuk membangun daerah, dengan menjaga hubungan baik antarsesama sekaligus merawat alam.
Dengan kepedulian tersebut, masyarakat diharapkan ikut mengambil peran dalam mencegah karhutla dan menjaga lingkungan agar tetap lestari bagi kehidupan bersama.
Editor : Juniardi


