SAMPIT, katakata.co.id – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunjukkan peningkatan, seiring masih terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di sejumlah wilayah.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim mencatat 2.656 kasus ISPA sepanjang Agustus 2026. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan catatan bulanan sejak awal tahun.
Secara keseluruhan, fasilitas kesehatan di Kotim mencatat 16.855 kasus ISPA selama Januari hingga Agustus 2026. Pada Januari terdapat 2.749 kasus, kemudian Februari 2.031 kasus, Maret 1.495 kasus, April 2.132 kasus, Mei 1.751 kasus, Juni 1.922 kasus dan Juli 2.119 kasus.
Kepala Dinkes, Kotim Umar Kaderi mengatakan, peningkatan kasus tersebut belum masuk kategori signifikan. Namun, kondisi udara yang memburuk tetap perlu diwaspadai karena paparan asap dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan.
“Ada peningkatan, cuma tidak signifikan. Jadi karena kabut asap, terus ada iritasi sedikit, dengan kondisi tubuh kita kurang bagus, jadi virus bisa masuk,” kata Umar Kaderi, Selasa (8/9/2026).
Ia menjelaskan, angka yang tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan belum tentu mencerminkan keseluruhan kasus ISPA di masyarakat. Sebagian warga yang mengalami gangguan pernapasan memilih melakukan pengobatan sendiri tanpa mendatangi fasilitas kesehatan.
“Jadi yang sakit itu kemungkinan besar minum obat sendiri, beli obat sendiri, tidak berobat ke faskes kita. Bisa jadi dengan membeli obat di apotek atau toko-toko obat, sehingga sembuh sendiri,” jelasnya.
Di sisi lain, paparan kabut asap tidak secara otomatis membuat setiap orang mengalami ISPA. Kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh juga turut memengaruhi risiko seseorang mengalami gangguan kesehatan.
Meski demikian, kondisi karhutla yang masih terjadi tetap menjadi perhatian karena selain mengganggu aktivitas masyarakat, asap yang dihasilkan juga dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Umar mengingatkan, masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah agar memperhatikan perlindungan diri, terutama ketika kualitas udara sedang buruk.
“Kalau memang ingin beraktivitas ke luar rumah, gunakan masker supaya partikel-partikel debu tidak masuk ke tubuh,” imbaunya.
Masyarakat juga diharapkan tidak mengabaikan kondisi kesehatan selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Kotim. Upaya mengurangi paparan asap menjadi salah satu langkah penting sembari penanganan karhutla terus dilakukan.
Editor : Juniardi


