SAMPIT, katakata.co.id – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghadapi tantangan tidak hanya dari kondisi lahan yang kering, tetapi juga risiko keselamatan personel di lapangan.
Wakil Komandan III Posko Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, meminta petugas dan relawan tidak memaksakan diri ketika kondisi fisik mulai menurun. Keselamatan harus tetap menjadi prioritas selama proses pemadaman berlangsung.
Imbauan tersebut disampaikan, menyusul adanya informasi mengenai relawan karhutla di wilayah lain di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang meninggal dunia saat menjalankan tugas pemadaman.
Menurut Rihel, situasi di lokasi kebakaran dapat berubah dengan cepat. Karena itu, personel harus memperhatikan arah pergerakan api, menjaga komunikasi dengan anggota tim serta memastikan jalur untuk menyelamatkan diri tetap tersedia.
“Kalau capek istirahat, jangan dipaksakan. Saat melakukan pemadaman jangan bekerja sendiri dan jangan sampai lengah. Api bisa bergerak cepat dan mengepung petugas jika tidak berhati-hati,” pesan Rihel, Senin (7/9/2026).
Ia menegaskan, keberanian dalam menghadapi karhutla perlu disertai kewaspadaan. Petugas juga diminta tidak bekerja seorang diri, terutama ketika harus masuk ke kawasan yang sulit dijangkau.
Risiko kelelahan juga telah dirasakan personel penanganan karhutla di Kotim. Sedikitnya lima petugas dan relawan dilaporkan sempat mengalami kondisi kesehatan yang menurun, akibat kelelahan dan paparan asap selama bertugas.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, bahkan sempat mendapatkan perawatan di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD dr Murjani Sampit setelah mengalami kelelahan dan sesak napas.
“Kondisi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keselamatan dan kesehatan petugas harus menjadi prioritas. Semangat memang penting, tetapi jangan sampai mengabaikan faktor keselamatan,” ujarnya.
Selain kondisi personel, ketersediaan air juga menjadi kendala dalam operasi pemadaman. Musim kemarau membuat sejumlah sungai dan parit di wilayah Kotim mengalami kekeringan sehingga sumber air yang dapat digunakan petugas semakin terbatas.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit, terutama ketika titik kebakaran berada jauh dari sumber air. Pemerintah desa dan kecamatan pun didorong mulai menyiapkan sumber air alternatif di wilayah yang memiliki risiko karhutla tinggi.
Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah pembangunan sumur bor sebagai sumber air cadangan ketika terjadi kebakaran.
“Kalau sumber air tidak tersedia, pemadaman menjadi sangat sulit. Ke depan desa-desa perlu memikirkan sumur bor sebagai langkah antisipasi,” kata Rihel.
Dengan memperhatikan kondisi personel sekaligus memperkuat ketersediaan sumber air, penanganan karhutla diharapkan dapat berjalan lebih efektif tanpa mengorbankan keselamatan petugas dan relawan yang berada di garis depan.
Editor : Juniardi


