SAMPIT, katakata.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memperpanjang status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan hingga 30 September 2026.
Keputusan tersebut diambil, setelah pemerintah mengevaluasi kondisi penanganan karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah. Status tanggap darurat diperpanjang selama 15 hari setelah sebelumnya berakhir pada 15 September 2026.
Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan, evaluasi menunjukkan ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir. Selain kemunculan titik api baru, petugas masih harus melakukan pendinginan di sejumlah lokasi bekas kebakaran.
“Kita evaluasi apa yang sudah kita lakukan selama mulai dari siaga, kita tingkatkan menjadi tanggap. Dan ini kita perpanjang lagi sampai 30 September selama 15 hari,” kata Halikinnor, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, kondisi di lapangan masih membutuhkan penanganan bersama. Sejumlah titik yang sebelumnya terbakar masih mengeluarkan asap sehingga berpotensi kembali memicu kebakaran apabila tidak segera ditangani.
“Kita sambil melihat perkembangan. Karena sampai saat ini ternyata masih muncul titik-titik api dan juga banyak juga yang memerlukan pendinginan, pendinginan terhadap bekas titik api yang masih ada asap,” ujarnya.
Perpanjangan status tersebut diputuskan dalam rapat koordinasi penanggulangan darurat karhutla yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Bupati Kotim, Senin (14/9/2026). Rapat diikuti unsur Pemkab Kotim, TNI, Polri, BMKG, Perumdam Tirta Mentaya dan instansi terkait lainnya.
Status tanggap darurat karhutla dan kekeringan, sebelumnya ditetapkan sejak 30 Juli hingga 26 Agustus 2026. Karena kondisi belum memungkinkan, status kemudian diperpanjang sampai 15 September dan kini kembali diperpanjang hingga akhir September.
Pertimbangan lainnya berasal dari prakiraan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, yang menunjukkan kondisi musim kemarau di Kotim masih berlanjut. Situasi tersebut membuat potensi kebakaran masih perlu diwaspadai.
Halikinnor menegaskan, penanganan akan terus dilakukan dengan melibatkan seluruh unsur selama masa tanggap darurat. Kolaborasi diperlukan agar kebakaran tidak meluas dan kondisi dapat segera dikendalikan.
“Intinya kita berkolaborasi semua pihak, kerja sama berusaha memadamkan api itu sehingga karhutla ini bisa kita lewati dengan baik dan tidak bertambah besar,” tegasnya.
Pemkab Kotim berharap, pengendalian karhutla dapat segera membuahkan hasil sehingga aktivitas masyarakat yang terdampak, mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga transportasi, dapat kembali berjalan normal.
“Sehingga aktivitas, baik ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun transportasi, itu bisa kembali normal seperti semula,” demikian Halikinnor.
Penulis/Editor : Juniardi


