SAMPIT, katakata.co.id – Dua helikopter water bombing disiapkan untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Operasi udara tersebut akan difokuskan pada titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan, dukungan dari udara diperlukan karena masih terdapat lokasi kebakaran yang berada jauh dari akses personel maupun armada pemadam. Kehadiran helikopter diharapkan dapat membantu mempercepat penanganan pada wilayah tersebut.
“Saya terima informasi bahwa hari ini mudah-mudahan jadi, ada dropping dua buah helikopter untuk water bombing. Kita berharap khususnya pada titik api yang jangkauannya jauh dan tidak mungkin kita melaksanakan pemadaman lewat darat,” kata Halikinnor.
Koordinator Lapangan Satgas Karhutla dan Kekeringan Kotim, Rihel mengatakan, dua helikopter yang disiapkan terdiri dari jenis AS365 dan Kamov. Keduanya direncanakan bergerak dari Palangka Raya menuju Sampit dan ditempatkan di Bandara Haji Asan Sampit.
“Helikopter untuk water bombing rencananya tiba di Sampit hari ini dan itu standby di Sampit. Rencananya ada dua unit, yaitu AS365 dan Kamov,” terangnya.
Meski demikian, proses penerbangan menuju Sampit tetap mempertimbangkan kondisi cuaca. Kabut asap yang masih terjadi dapat mengurangi jarak pandang sehingga menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam penerbangan.
Setelah berada di Sampit, penentuan sasaran water bombing akan dilakukan berdasarkan pemetaan titik api. Satgas Udara akan menggabungkan informasi dari Satgas Darat, kepolisian serta pemantauan satelit melalui SiPongi untuk menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan dari udara.
Rihel mengatakan, lokasi yang tidak memiliki akses jalan darat akan menjadi salah satu prioritas. Operasi udara juga memungkinkan petugas menjangkau wilayah yang membutuhkan waktu lama, apabila ditangani hanya menggunakan armada dari darat.
“Sambil jalan kalau ada dua, satu bisa kita arahkan ke daerah pedalaman yang jauh, misalnya seperti Pulau Hanaut, posisi yang tidak ada jalan daratnya. Itu kita prioritaskan. Jadi diprioritaskan yang jauh-jauh yang sulit dijangkau pasukan darat,” jelasnya.
Sejumlah wilayah di bagian selatan Kotim menjadi perhatian, di antaranya Pulau Hanaut, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan dan Mentaya Hilir Utara. Namun sasaran operasi dapat berubah sesuai perkembangan titik api di lapangan, termasuk apabila wilayah sekitar perkotaan membutuhkan bantuan pemadaman dari udara.
Dua helikopter tersebut dibiayai Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan akan disiagakan di Sampit selama masih dibutuhkan dalam penanganan karhutla. Lama penempatan diperkirakan satu hingga dua pekan, tetapi dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebijakan BNPB.
“Untuk saat ini tergantung kondisi lapangan. Tidak menutup kemungkinan bisa saja seminggu, dua minggu sampai dengan kita dan juga perpanjangan dari BNPB,” sebutnya.
Penulis/Editor : Juniardi


